Hal pertama yang harus dikuasai oleh Pengacara perceraian jika ingin memenangi sebuah perkara perceraian yang meliputi cerai, hak asuh anak dan nafkah anak adalah kemampuan pengacara perceraian untuk menganalisa dan mengindentifikasi kronologis suatu perkara. Pengacara perceraian harus menanyakan secara detail mengenai kronologis peristiwa kepada Klien dan mempersiapkan bukti-bukti seperti bukti surat dan bukti saksi yang relevan terhadap gugatan cerai.

Pengacara perceraian harus mampu mengungkapkan hal-hal yang menguntungkan bagi Klien nya yang dituangkannya dalam dalil-dalil posita gugatan cerai. Posita gugatan dibuat dengan tujuan untuk mempermudah pembuktian saat sidang berlangsung, disarankan membuat posita gugatan secara garis besar sebuah peristiwa hukum, bukan justru dibuat secara detail dimana bisa saja menyulitkan dalam pembuktian nantinya bilamana tidak didukung oleh saksi yang relevan.

Memenangkan Hak Asuh Anak Dalam Perkara Perceraian

Dalam hal perebutan hak asuh anak misalnya, gugatan Penggugat harus mampu menerangkan dengan jelas, mengapa Penggugat layak mendapat hak asuh dan Tergugat tidak layak mendapat hak asuh. Misalnya digambarkan bahwa Tergugat memiliki sifat dan sikap yang buruk yang mempengaruhi tumbuh kembang anak serta buruk bagi masa depan anak nantinya.

Sifat buruk itu seperti bila Tergugat seorang laki-laki. umumnya diterangkan bahwa Tergugat tidak bekerja, suka melakukan KDRT, Peminum alkohol/Pemabuk, Penjudi, tidak pernah ingat anak dan tidak perhatian terhadap anak nya, jarang atau tidak pernah menafkahi anak, suka keluar malam/keluyuran dan masih banyak sifat buruk lainnya yang bisa diungkapkan dalam gugatan, tentu yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Bila hal ini terang disebutkan dalam gugatan yang dikuatkan dengan keterangan saksi, maka akan mampu memberikan keyakinan hakim dalam menjatuhkan Putusan untuk menjatuhkan hak asuh anak kepada Penggugat, dikarenakan Penggugat dipandang mampu untuk merawat anak dengan baik.

Begitupula jika ingin memenangi gugatan nafkah anak, dalam gugatan harus jelas mengungkapkan mengenai berapa besar pengeluaran per bulan sang anak baik biaya hidup maupun biaya sekolah sang anak, dikuatkan dengan bukti nota, kwitansi, bukti SPP sekolah dan lainnya.

Yang terpenting Penggugat (dalam hal ini Perempuan) mampu membuktikan dalam gugatannya seberapa besar penghasilan sang suami perbulan berikut dengan bukti slip gaji maupun saksi yang mengetahui pekerjaan Tergugat dan sumber-sumber penghasilan Tergugat setiap bulannya, yang besaran nafkah bulanan anak yang ideal adalah 30% dari jumlah penghasilan ataupun pemasukan Tergugat setiap bulannya.